Rabu, 23 Juli 2014
00:25 WIB
Onno W Purbo Diundang ke Harvard University
Onno bertemu tokoh-tokoh TI dunia membicarakan strategi pengentasan kemiskinan lewat TI
Like
Onno W Purbo
Indra Darmawan | Jum'at, 25 September 2009, 16:12 WIB

VIVAnews - Tokoh teknologi informasi (TI) Indonesia Onno W Purbo pekan ini menghadiri undangan di Harvard University, untuk menjadi pembicara mengenai teknologi informasi sebagai sarana untuk mengentaskan kemiskinan.

Onno diundang ke acara ICT4Poverty, oleh dua pemenang nobel di bidang ekonomi, yakni Michael Spence dan Amartya Sen. Pertemuan yang diadakan pada 22-28 September 2009 itu juga akan dihadiri oleh belasan tokoh aktivis TI di seluruh dunia, yang kebanyakan bergelar profesor.

Mereka adalah pakar-pakar atau profesor-profesor dari Amerika Serikat, Kanada, Denmark, India, Costa Rica, dan lain-lain. Termasuk juga di antaranya adalah peraih nobel dari Bangladesh, Muhammad Yunus.

"Terus terang dunia banyak belajar dari aktivitas kita, bangsa Indonesia, tentang bagaimana cara memandaikan masyarakat untuk mengentaskan kemiskinan, melalui kegiatan mandiri dan swadaya masyarakat, tanpa dukungan Bank Dunia atau bahkan pemerintah," ujar Onno.

Pertemuan para tokoh TI yang digelar di Faculty Club Harvard itu, akan mendiskusikan langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk pengembangan TI demi mengentaskan kemiskinan di negara berkembang.

Onno mempresentasikan paper berjudul "Subtle Strategies in Unleashing Community's Inner Capacity". Dalam paper tersebut, Onno antara lain menceritakan kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh komunitas TI tanah air untuk mengembangkan TI dengan bantuan yang minim dari pemerintah.

Onno W Purbo"Seluruh aksi strategis musti dimaksimalkan untuk mencapai sasaran yang maksimal. Kita mencoba membawakan manfaat besar kepada banyak orang, dengan biaya serendah mungkin agar 240 juta rakyat Indonesia bisa dicerdaskan," ujar Onno dalam paper tersebut.

Selain itu, di forum tersebut, Onno juga menceritakan tentang perjuangannya untuk memerdekakan frekuensi 2,4 GHz sebagai pita frekuensi yang bisa digunakan oleh masyarakat, yang pada akhirnya dikabulkan pemerintah melalui Keputusan Menteri Hatta Rajasa No.2/ 2005 tentang Wireless Internet di 2.4GHz.

Selama ini, Onno memang dikenal sebagai tokoh aktivis TI yang kerap memperjuangkan internet murah untuk rakyat dan pendidikan. Selain itu, Onno juga selalu memperjuangkan teknologi open source dan telepon internet (Voice over Iinternet Protocol).

Doktor lulusan Universitas Waterloo Kanada itu, juga malahan kerap diminta bantuan keahliannya untuk mengembangkan teknologi di negara tetangga, seperti teknologi open source di Timor Leste atau teknologi 4G Thailand.

Karena pakar-pakar yang hadir dalam acara ICT4Poverty kebanyakan berasal dari kalangan akdemisi, menurut Onno, kehadirannya sebagai 'orang lapangan', membawa nuansa yang sedikit berbeda. "Akibatnya kelihatan menonjol sekali bahwa komunitas TI Indonesia jauh lebih kuat daripada semua negara yang hadir."

© VIVA.co.id

Berita Terkait
A A A
Kanal Lainnya