Ketika 'Emas Biru' jadi Rebutan

Krisis air bersih akibat kemarau berkepanjangan.
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Anis Efizudin

VIVA.co.id - Bukan rahasia jika sumber daya air pasti akan menyusut. Hampir sebulan ke belakang, masalah ini menjadi hiruk pikuk di sejumlah daerah di Indonesia.

Bencana kemarau panjang yang diprediksi lebih lama hingga Oktober 2015, disebut menjadi salah satu penyebab hilangnya sumber-sumber air.

Di Pulau Flores Nusa Tenggara Timur, ratusan warga terpaksa mengantre air tetesan dari akar pohon yang menggenang di sebuah kubangan kecil.

Sementara di Sumatera Utara, sebagian warga terpaksa mengadu nasib bergantian dengan binatang buas demi mendapatkan air di sungai di dalam hutan.

Kejadian ini bukan tidak mungkin sudah pernah terjadi sebelumnya. Atau kalaupun berbeda, mungkin daerahnya saja yang berubah.

Bencana krisis air di Indonesia, sedianya sudah pernah diungkap oleh hasil penelitian dari Rektor Universitas Parahyangan Robertus Wahyudi Triweko.

Akhir tahun lalu, ia menyebut jika di tahun 2015 akan ada empat pulau besar di Indonesia yang akan mengalami bencana ini.kemarau melanda indonesia

Pulau-pulau itu yakni, Jawa, Sulawesi, Bali dan Nusa Tenggara Timur. "Ketahanan air Indonesia menjadi ancaman. Di Pulau Jawa misalnya, sekitar 60 persen penduduk Indonesia tinggal di pulau ini. Akibatnya ketahanan air di pulau ini menjadi defisit," ujar Robertus pada November silam.

Sejatinya, sebagai negara kepulauan yang terletak di sepanjang garis khatulistiwa, masalah krisis air menurut Robertus tak perlu terjadi.

Sebab fakta menunjukkan bahwa potensi sumber daya air di Indonesia begitu melimpah. Curah hujannya saja rata-rata mencapai 2.500 milimeter.

"Data DFID dan Bank Dunia pada tahun 2007, Indonesia tercatat mempunyai potensi listrik tenaga air hingga 76,7 GW, sedangkan yang sudah dikembangkan baru 4,2 GW," katanya.

Namun demikian. Seiring lonjakan pertumbuhan penduduk yang kemudian berimbas pada desakan perubahan tata guna lahan, potensi itu pun menjadi terancam.

Ratusan Paus Mati Terdampar di Chile

Perempuan Jadi Menderita


Terlepas dari efek lanjutan kekeringan terhadap pasokan air yang kemudian mengancam ketersediaan pangan hingga ke masalah sosial lainnya.

Dampak hilangnya 'emas biru' ini dirasakan paling berdampak pada perempuan. Para ibu rumah tangga kini harus ekstra lebih keras mengurusi rumah tangganya.

Kini para perempuan di desa-desa terpencil terpaksa berjalan kaki jauh dari rumahnya hanya untuk berburu air. Berember-ember air pun dipanggul dalam jarak yang jauh.

"Para suami kan bekerja, jadi kami lah yang harus mengambil air," ujar seorang ibu rumah tangga asal Desa Kuajang Polewali Mandar Sulawesi Barat Rahmatia, Jumat 31 Juli 2015.

Efek sosial ini bukan tidak mungkin melanda hampir di seluruh wilayah. Maklum, konsepsi bahwa urusan dapur merupakan urusan perempuan sudah menjadi tradisi di Indonesia.

Sebab itu, wajar adanya bila krisis air memang membuat perempuan dan anak-anak menjadi yang paling menderita.

Kemlu: RI Tetap Berkomitmen Turunkan Emisi Gas Karbon

Mahalnya Emas Biru


Tahun ini, pemerintah mengaku telah menyiapkan uang senilai Rp3,5 triliun untuk mengantisipasi bencana kekeringan.

Sebesar Rp100 miliar katanya akan digelontorkan untuk pembangunan embung-embung penampung air. Tentu biaya ini tak besar. Namun cukup mahal hanya untuk menjaga emas biru tetap ada.

Sepatutnya, anggaran ini digunakan sebelum munculnya bencana. Sehingga ketika terjadi kemarau atau pun krisis air, dana yang ada cukup digunakan hanya untuk perawatannya saja.

Yang pasti, tahun ini kemarau memang akan lebih panjang. Petani harus bisa beradaptasi lebih baik. Sawah-sawah yang terlanjur mengering sudah tak bisa ditolak.

"Masyarakat harus lebih efisien dalam menggunakan air. Bagi petani tembakau misalnya, kondisi ini (kemarau) bagus. Karena, semakin kering semakin bagus untuk panen mereka," ujar Prakirawan BMKG Karangploso Malang Ahmad Lutfi.

Ini yang Terjadi Pada Kota-kota Besar 100 Tahun Lagi
Krisis air bersih di Nusa Tenggara Timur

'Ritual' Berburu Air di Desa Ini Menyedihkan

Air sudah menjadi barang langka.

img_title
VIVA.co.id
30 Januari 2016