Kamis, 24 Juli 2014
06:50 WIB
Kompolnas Belum Bisa Pastikan Sisca Diseret atau Terseret
Kompolnas akan memeriksa darah di rantai sepeda motor pelaku.
Like
Franciesca Yofie alias Sisca Yovi
Ita Lismawati F. Malau | Jum'at, 16 Agustus 2013, 22:31 WIB

VIVAnews - Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) belum bisa memastikan apakah Franciesca Yofie (34) tewas setelah diseret atau memang tak sengaja terseret.

Hari ini, Kompolnas bertemu dengan jajaran Polres Bandung, Jawa Barat yang mengusut kematian Franciesca atau biasa disapa Sisca, Senin malam 5 Agustus lalu. Ketiga anggota Kompolnas itu adalah Hamidah Abdurrahman, Edi Hasibuan, dan M Nasser.

Salah satu misteri yang harus dipecahkan adalah: apakah betul rambut Sisca tergulung di gir motor pelaku penjambretan, seperti yang kesimpulan penyidik Polres Bandung. Sebab, sejumlah saksi di lapangan mengaku melihat pelaku yang mengendarai motor lah yang menyeret tubuh Sisca dari depan indekos perempuan malang itu.

"Kami tahu kasus ini berkembang dan memunculkan beberapa penafsiran serta opini-opini di masyarakat. Makanya, kami harus klarifikasi dan kami memeriksa lokasi kejadian untuk mencari kebenaran," kata salah satu anggota Kompolnas Hamidah di Polrestabes Bandung, Jumat 16 Agustus 2013.

Namun, Kompolnas membutuhkan waktu untuk menyimpulkan apakah korban terseret atau diseret pelaku. Salah satu cara mencari tahu hal ini adalah dengan memeriksa kapan persisnya Sisca mengalami luka.

Hamidah menambahkan, Kompolnas juga perlu mengetahui posisi sepeda motor yang digunakan pelaku yang berjumlah dua orang itu untuk disesuaikan dengan kapan luka besar dialami Sisca.

"Mungkin secara lebih mendalam kami harus memeriksa rantai motor ini untuk melihat apakah darah yang ada. Apakah sama dengan darah korban," tuturnya.

Cara lainnya untuk mengetahui diseret atau terseret dengan tes DNA.

Ditanya mengenai hasil pemeriksaan dua tersangka --Wawan dan Ade-- Hamidah menuturkan, penjelasan mereka sama dengan apa yang disampaikan Polisi. "Bahwa dia tidak menyeret, tapi korban terseret," imbuhnya.

Kompolnas sempat juga mengecek kondisi jalan yang dilalui pelaku dan Sisca saat insiden. Jalannya menurun sehingga ada gravitasi. "Kalau jalan menurun, korban akan terjatuh dan lepas, tentu akan tertinggal. Ternyata ini korban nyangkut. Sehingga ini yang didiskusikan," tutupnya.

Diberitakan sebelumnya, kematian Sisca makin menjadi perhatian setelah terungkap bahwa yang bersangkutan sempat menjalin hubungan terlarang dengan perwira polisi yang bertugas di Polda Jawa Barat, Kompol Albertus.

Namun, Polres Bandung yakin, kematian Sisca tak terkait dengan Albertus. Polisi juga yakin, Sisca hanya jadi korban penjambretan.

Meskipun demikian Kapolres membenarkan Sisca berupaya menghindari sang perwira, Komisaris Polisi A. “Dari catatan harian Sisca, tertulis dia tidak mau bertemu Kompol A. Tapi dalam surat balasan Kompol A, dia seperti mengejar Sisca. Ini karena Kompol A terlalu mencintai Sisca,” kata Kapolres Sutarno, beberapa waktu lalu.

Ia menegaskan, tak ada motif dendam di balik terbunuhnya Sisca. Polisi meyakini Sisca terbunuh ketika berupaya melawan orang yang menjambret tasnya. Ia terjatuh persis di belakang motor pelaku, rambutnya tersangkut gir motor dan kemudian terseret motor. (umi)

 

© VIVA.co.id

Berita Terkait
A A A
Kanal Lainnya