Jum'at, 22 Agustus 2014
04:59 WIB
Demo Tolak Gereja di Bekasi Ricuh
Aksi rusuh karena massa melakukan aksi bakar ban bekas.
Demo penolakan pembangunan gereja di Bekasi
Eko Priliawito,  Erik Hamzah (Bekasi) | Kamis, 27 Juni 2013, 14:44 WIB
VIVAnews - Aksi unjuk rasa ratusan orang dari Forum Umat Islam (FUI) di kantor Wali Kota Bekasi, Jawa Barat, untuk menolak pembangunan gereja berlangsung ricuh, Kamis, 27 Juni 2013. Aksi ini juga diikuti anggota majelis taklim se-Kecamatan Jatisampurna.

Dalam aksi tersebut, massa menuntut Pemkot Bekasi membongkar Gereja Katolik Stanislaus Koska di Kampung Kalamiring, Kranggan, Jatisampurna, yang masih dalam tahap pembangunan.

Massa menilai perizinan gereja itu tidak sesuai prosedur. Mereka menduga ada pemalsuan dokumen persetujuan warga. Namun, wali kota tetap meresmikan pembangunan gereja pada 14 April 2013 lalu.

Pantauan VIVAnews, unjuk rasa semula berjalan cukup kondusif. Namun kericuhan pecah, saat massa mulai melakukan aksi bakar ban bekas, keranda mayat dan pocongan bergambar Wali Kota, Rahmat Effendi, di lapangan upacara plaza Pemkot Bekasi.

Sejumlah massa terlibat baku pukul dengan petugas kepolisian dan Satpol PP, yang berusaha memadamkan api dengan alat pemadam api ringan. Bahkan, seorang pertugas pemadam kebakaran yang ingin menjinakan api, nyaris menjadi bulan-bulanan massa yang sudah mulai emosi.

Dalam aksi itu dua orang pengunjuk rasa yang diduga menjadi provokator sempat menjadi bulan-bulanan sejumlah aparat kepolisian dan Satpol PP. Dua orang itu kemudian diamankan oleh rekan-rekannya yang menarik mereka dari pegangan petugas keamanan.

Keributan berakhir setelah perwakilan pengunjukrasa diperkenankan menemui Sekertaris Daerah (Sekda) Kota Bekasi untuk melakukan dialog.

Kuasa Hukum FUI Kota Bekasi, Muhammad Farid Rahmat, menuturkan, unjukrasa dilakukan kali ini sebagai bentuk protes, terhadap sikap Pemkot Bekasi yang membiarkan pembangunan gereja.

"Kami sudah beberapa kali melakukan aksi unjukrasa sebagai bentuk protes. Tapi aksi kita tidak pernah direspons dan tidak ditindak-lanjuti," katanya.

FUI Kota Bekasi, lanjut dia, akan melanjutkan kasus ini ke proses hukum di pengadilan jika wali kota Bekasi, tetap tidak merespons tuntutannya.

Farid sendiri menyayangkan kericuhan yang terjadi dalam aksi unjuk rasa tersebut. Dirinya bahkan secara tegas menuding ada provokator yang sengaja disusupkan ke dalam aksi yang awalnya berjalan kondusif.

"Kami meminta agar Pemkot Bekasi melakukan investigasi terhadap berdirinya gereja tersebut," katanya.

Sementara itu, Kasatpol PP Kota Bekasi, Yayan Yuliana, mengatakan, pihaknya terpaksa mengambil langkah tegas. Awalnya massa yang berunjukrasa di kantor Wali Kota hanya ingin menyampaikan orasi secara damai. Namun pada kenyataannya di lapangan mereka melakukan aksi bakar ban, keranda mayat dan pocongan.

"Kami tidak mentolerir hal tersebut,” kata dia. (aba)

© VIVA.co.id

SHARE

BERITA TERKAIT
A A A
Kanal Lainnya