Sabtu, 30 Agustus 2014
03:21 WIB
Tim Nasional untuk Gunung Padang
Tim dibentuk pemerintah setelah warga mengajukan petisi ke presiden.
Tim pertama kali mengebor Gunung Padang Februari 2012
Arfi Bambani Amri | Senin, 13 Mei 2013, 09:53 WIB
VIVAnews - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan membentuk Tim Nasional Gunung Padang untuk menindaklanjuti temuan-temuan Tim Riset Terpadu Gunung Padang di Cianjur, Jawa Barat. Tim Nasional ini akan melibatkan pakar lintas ilmu dan lintas instansi.

"Kami siap saja nanti diikutkan," kata arkeolog Ali Akbar yang memimpin Tim Riset Terpadu Gunung Padang, saat dihubungi VIVAnews, Minggu 12 Mei 2013. "Saya siap melaporkan semua hasil riset saya nanti," kata arkeolog dari Universitas Indonesia itu.

Ali Akbar menyatakan, menyambut baik hasil pertemuan Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, perwakilan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Kementerian Riset dan Teknologi, serta ahli dari berbagai latar keilmuan pada Jumat 10 Mei lalu. Pertemuan itu kemudian menghasilkan kesepakatan membentuk Tim Nasional Gunung Padang.

Staf Khusus Presiden bidang Bencana Alam dan Bantuan Sosial, Andi Arief, menyampaikan, formatur tim dipimpin mantan Sekretaris Direktorat Jenderal Purbakala Soeroso yang juga seorang arkeolog. Formatur terdiri dari:
1. Drs. Soeroso MP, M.Hum;
2. Prof. Dr. Mundardjito;
3. Prof. Ris. Dr. Sutikno Bronto, M.Sc;
4. Dr. Bambang Sulistyanto;
5. Dr. Danny Hilman;
6. Dr. Budianto Ontowiryo;
7. Dr. Bambang Rudito, M.Sc;
8. Ir. Joko Nugroho, M.Sc; dan
9. Drs. Junus Satrio Atmojo, M.Hum.

Tim Formatur ini akan menyiapkan Tim Nasional Gunung Padang, termasuk menyiapkan roadmap penelitian Gunung Padang yang dimasukkan dalam anggaran 2013 sehingga bisa dilaksanakan pada 2014. Penelitian yang dilakukan harus berwawasan pelestarian, sementara Tim Riset Terpadu yang sudah bekerja lebih dulu disilakan terus melakukan riset namun dengan koordinasi.

Sementara Pusat Penelitian Arkeologi Nasional diberi kewenangan untuk merangkum hasil-hasil penelitian. Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman diberi kewenangan untuk membuat masterplan. Kemudian situs Gunung Padang perlu segera ditetapkan statusnya oleh Tim Ahli cagar Budaya.

Ramai Setelah Petisi

Pertemuan difasilitasi Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan bidang Kebudayaan, Wiendu Nuryanti, itu merupakan tindak lanjut aksi sejumlah arkeolog dan warga yang mengajukan petisi ke Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang menolak rencana ekskavasi massal Gunung Padang. Dalam petisi yang dipublikasikan Change.org ini, kelompok yang menyebut diri Forum Pelestari Gunung Padang menyatakan Gunung Padang adalah bangunan megalitik terbesar di Asia Tenggara.

Situs ini  memiliki nilai penting sebagai bukti peradaban umat manusia. Sebagai situs yang menjadi perhatian internasional, sudah seharusnya situs ini dilindungi dari kemungkinan terjadinya kerusakan permanen. Namun, Gunung Padang justru terancam dengan rencana ekskavasi besar-besaran menggunakan tenaga yang tidak terlatih. "Ini berpotensi menghilangkan data arkeologi yang tidak dapat dipulihkan kembali," tulis keterangan itu seperti tertuang pada hari Senin, 29 April 2013.

Menurut Forum ini, ekskavasi yang dipimpin Tim Riset Terpadu Mandiri Gunung Padang dilaksanakan tanpa mengikuti kaidah-kaidah keilmuan, wawasan pelestarian, dan ketentuan administrasi sesuai izin yang dikeluarkan. Tim ini juga berencana melibatkan masyarakat awam sebagai relawan untuk mendukung kegiatan yang mereka sebut “Operasi Kemuliaan Merah Putih di Gunung Padang”.

Sedianya Tim Riset Mandiri Gunung Padang akan melakukan ekskavasi massal pada 11-12 Mei mendatang. Tim tengah mencari ratusan sukarelawan untuk kegiatan ini. Namun, karena munculnya petisi ini, Tim Riset yang diinisiasi Staf Khusus Presiden bidang Bencana Alam dan Bantuan Sosial Andi Arief itu menunda rencana ekskavasi.

Ali Akbar menyatakan, kini tim menunggu kerja Tim Nasional yang sebagian beranggotakan pula ahli yang ikut Tim Riset Mandiri Terpadu Gunung Padang. Namun Ali membantah semua tuduhan di petisi tersebut.

"Tuduhan bahwa riset kami berisiko longsor, tidak prolingkungan, tidak berizin, merusak dan lain-lain, itu tidak ada buktinya," kata Ali Akbar. "Kami melakukan riset sesuai kaidah keilmuan dan ketentuan yang berlaku," ujar pengajar di Universitas Indonesia itu.

Andi Arief: Riset Terbukti

Andi Arief bercerita riset Gunung Padang ini muncul di tahun 2011 setelah dia mendapat laporan dari sejumlah geolog termasuk Danny Hilman bahwa ada struktur buatan manusia yang tertimbun di bawah Gunung Padang. Danny sendiri sudah terlibat bersama Andi meneliti bencana alam purba yang terjadi di Indonesia. Diduga, struktur di bawah Gunung Padang itu juga tertimbun akibat katastrofi purba yang terjadi beribu-ribu tahun lalu.

"Terus terang di pertengahan 2011, saya juga dalam posisi meragukan paparan Tim Geologi bawah permukaan pimpinan Dr Danny hilman dan kawan-kawan," kata Andi Arief. Namun, Andi tetap menyokong rencana geolog-geolog itu meneliti lebih lanjut.

4-5 Februari 2012, dilakukanlah pengeboran di Gunung Padang untuk mengambil sampel geologi. Pengeboran dilakukan setelah ada pemindaian dengan alat geofisika dan geolistrik, yang menemukan adanya bentuk seperti struktur di bawah permukaan tanah.

"Keyakinan saya bertambah dengan ekskavasi lokal oleh arkeolog Dr Ali Akbar di tahun 2012 dan yang terakhir awal Mei 2013 lalu yang mengafirmasi pemindaian dan sketsa imajiner Pak Pon Purajatnika," kata Andi Arief.

Danny Hilman sendiri menjelaskan dengan panjang lebar
, bahwa ada setidaknya dua lapis peradaban di Gunung Padang. Lapis yang termuda yang terlihat sekarang, namun di bawahnya ada lagi yang lebih tua. Danny menyatakan, penggalian dilakukan baru sampai kedalaman 4 meteran saja, namun survei geolistrik memperlihatkan di bawahnya masih ada kenampakan struktur bangunan dengan geometri yang terlihat menakjubkan sampai kedalaman lebih dari 10 meter.

"Kini, keraguan saya berakhir. Semua sudah terbuktikan!" kata Andi Arief. (sj)

© VIVA.co.id

SHARE

BERITA TERKAIT
BERITA TERPOPULER
A A A
Kanal Lainnya