Kamis, 23 Oktober 2014
14:57 WIB
Demo Pemekaran Musi Rawas Rusuh, 4 Tewas
Diduga mereka ditembak aparat. Enam petugas juga terluka.
Mobil di depan Polsek Rupit, Musi Rawas dibakar massa.
Eko Priliawito, Taufik Rahadian | Selasa, 30 April 2013, 23:31 WIB

VIVAnews - Empat korban tewas akibat penembakan dalam bentrokan antara warga Kecamatan Muara Rupit, Musi Rawas, Sumatera Selatan, dan polisi dimakamkan Selasa siang, 30 April 2013. Sementara itu, belasan korban luka masih dirawat di Rumah Sakit Lubuk Linggau. Sejumlah polisi termasuk dalam daftar korban luka tersebut.

Kerusuhan berdarah ini terjadi Senin malam. Keributan berawal dari tuntutan warga yang menginginkan pemekaran Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara) yang sudah berlangsung beberapa waktu terakhir. Tuntutan terutama disuarakan warga Muara Rukit yang merupakan calon ibukota Muratara. 

Jenazah tiga korban, yakni Mikson (35), Apriyanto (18), dan Suharto (18), dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum Rupit. Sedangkan jasad Fadilah (40) dimakamkan oleh keluarganya di Desa Pantai yang berjarak satu kilometer dari Desa Rupit.

Warga Musi Rawas menyesalkan kejadian ini karena dua korban masih berstatus sebagai pelajar. Mereka menuding penembakan dilakukan oknum polisi secara membabi buta dengan jarak sekitar lima meter. 

Setelah pemakaman, warga kembali berunjuk rasa. Mereka menuntut segera dilakukan pemekaran, meminta polisi bertanggung jawab atas penembakan yang menewaskan empat warga, dan membebaskan Ketua Presidium Pemekaran Muratara, Syarkowi, yang ditahan polisi. 

Hingga malam ini--saat berita ini diunggah--aksi pemblokiran Jalan Lintas Sumatera yang merupakan jalan nasional itu masih dilakukan. Lalu lintas kendaraan lumpuh total. Seluruh kendaraan dari Jambi maupun dari arah Lubuk Linggau tidak bisa melintas. Warga ngotot bertahan sampai Gubernur Sumatra Selatan Alex Noerdin datang menemui mereka. 

"Jalan masih diblokir, pengunjuk rasa terus bertambah. Ada enam petugas luka-luka, empat orang meninggal, tujuh warga luka-luka. Apakah mereka terkena senjata masih didalami," kata Kadiv Humas Mabes Polri Inspektur Jenderal Suhadi Alius.

Untuk mengamankan situasi, petugas gabungan dikerahkan. Mereka terdiri dari 1 Satuan Setingkat Kompi (SSK) Brimob, 2 SSK polisi dari Muara Supit, dibantu 1 SSK Yonif 144.  

Bentrok

Situasi sudah memanas sejak Senin, pukul 10.00. Ribuan warga berkumpul dan menggelar unjuk rasa di gedung DPRD Musi Rawas. Saat permasalahan ini dibahas anggota DPRD, sebagian besar warga Jalan Lintas Sumatera, memblokade Jalan Lintas Sumatera dengan membakari ban-ban bekas. Dalam waktu singkat, aksi ini total memacetkan jalur yang menghubungkan Palembang dan Bengkulu ini. 

Upaya mediasi yang dilakukan Kapolres Musi Rawas, Ajun Komisaris Besar Pol. Barly Ramadhan, dan Ketua Presidium Pemekaran, Syarkowi, tak digubris. Bahkan, keinginan polisi agar warga membuka sebagian jalan yang diblokir justru dibalas dengan lemparan batu. 

Menjelang sore, aksi warga masih berlangsung. Mereka menyatakan baru akan membuka blokade bila Gubernur dan Mendagri datang menemui warga.

Makin lama, bukannya mereda, warga yang terlanjur beringas malah menghunus senjata rakitan jenis kecepek dan golok untuk menghadapi rencana polisi membubarkan mereka secara paksa. Aksi tetap berlangsung hingga malam.

Pukul 20.00, wakil Pemerintah Kabupaten Musi Rawas yang datang membujuk warga untuk membuka blokir jalan juga dianggap angin lalu.

Sekitar pukul 21.00, Kapolres kembali meminta massa membubarkan diri. Tapi, ribuan warga justru melawan. Letusan yang diduga berasal dari senjata api terdengar. Aksi sempat mereda.

Tapi, satu jam kemudian, massa dengan beringas kembali melempari petugas. Bentrokan tak dapat dihindari.

Kemarahan warga menjadi setelah mereka mengetahui ada empat orang yang meninggal dalam bentrokan itu. Massa yang marah kemudian merusak dan membakar markas Polsek Muara Supit. Dua mobil, satu sepeda motor dan sejumlah rumah di asrama polisi ikut mereka hancurkan. Mereka juga lalu membakar dua mobil patroli polisi dan markas Polsek Rupit, Musi Rawas, Sumsel.

"Masa menolak kami bubarkan, mereka bertindak anarkis dan Polsek Rupit dibakar," kata Kapolres Musi Rawas, Ajun Komisaris Besar Pol. Barly Ramadhan, di lokasi kepada wartawan VIVAnews.

Tim investigasi

Terkait kematian empat warga yang diduga akibat ditembak aparat, Mabes Polri mengirim tim Inspektorat Pengawas Umum (Irwasum) dan Divisi Profesi dan Pengamanan (Propam) ke lokasi kejadian. 

Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) juga akan mendatangi lokasi untuk melakukan penyelidikan. Komisioner Komnasa HAM, Nur Kholis, mengatakan mereka akan mengumpulkan bukti dan data dari lapangan untuk mengetahui akar kerusuhan ini. "Kami akan menemui warga langsung untuk mengetahui kronologi sebenarnya," katanya.

Selain itu Komnas HAM juga akan bertemu dengan Ketua DPRD dan jajarannya untuk menyusuri tuntutan pemekaran yang berujung kerusuhan berdarah ini. (kd)

 

© VIVA.co.id

SHARE

BERITA TERKAIT
BERITA TERPOPULER
Kanal Lainnya