Senin, 22 September 2014
11:26 WIB
Cuci Otak: "Sihir" Dr. Terawan Mengusir Stroke
Yang lumpuh bisa berjalan lagi, yang buta bisa kembali melihat.
dr. Terawan Agus Putranto
Wuri Handayani, Stella Maris | Jum'at, 12 April 2013, 23:03 WIB
VIVAnews - Tak tersirat sedikitpun suasana mencekam di dalam ruang tindakan medis itu. Instrumen musik mengalun lembut. Di dekat pasiennya, sang dokter malah berdendang mengikuti nada. Ruang kaca berisi alat-alat kedokteran canggih itu bisa dibilang mirip ruang karaoke. Semua yang ada di dalam boleh ikut menyanyi, baik tim dokter ataupun keluarga pasien.

Yang berlangsung di ruangan itu bukan sebuah operasi besar. Itu sebuah tindakan medis yang tergolong "sederhana". Akan tetapi, efeknya begitu dahsyat: menghilangkan kelumpuhan akibat penyempitan pembuluh darah otak. 

Stroke sudah lama jadi momok yang menakutkan. Tapi, benarkah penyakit menyeramkan ini sekarang bisa total disembuhkan?  

Jawabannya: ya.

Kini kelumpuhan bisa disembuhkan dalam waktu kurang lebih 30 menit melalui metoda yang disebut dengan 'brain spa', atau istilah gampangnya 'cuci otak'. 

Adalah Brigjen dr. Terawan Agus Putranto, Sp. Rad (K) yang memberi suntikan inovasi pada teknik kedokteran di wilayah ini. Kini, dokter lulusan Universitas Airlangga Surabaya ini bahkan digadang-gadang banyak orang sebagai dokter pengusir stroke.

Dia menerapkan metoda radiologi intervensi dengan memodifikasi DSA (Digital Subtraction Angiogram). Ini teknik melancarkan pembuluh darah otak yang sudah ada sejak tahun 90-an. Modifikasi ini bertujuan mengurangi paparan radiasi. 

"Jumlah radiasi di ruang tindakan yang mengenai pasien dapat diredam hingga 1/40 dari jumlah radiasi biasa yang dilakukan di luar negeri. Tekniknya hanya memasukkan kateter ke dalam pembuluh darah melalui pangkal paha," dia memaparkannya kepada wartawan VIVAlife yang berkesempatan meliput dia ketika sedang melakukan tindakan medis di RSPAD Gatot Subroto Jakarta Pusat.

"Sihir" Terawan

Toh, ada yang meragukan "sihir" dr. Terawan. Mereka mempertanyakan bagaimana mungkin seseorang yang terserang stroke dapat sembuh begitu cepat.

Dr. Terawan menjelaskannya dalam bahasa awam. Menurut dia, stroke terjadi karena penyumbatan pembuluh darah di area otak. Itu mengakibatkan aliran darah jadi macet dan saraf tubuh tak bisa bekerja dengan baik. Buntutnya, orang jadi tidak bisa menggerakkan tangan, kaki, bibir, atau anggota tubuh lainnya. Nah, saat pembuluh darah tersebut lancar kembali, semua akan berubah dengan cepat. Jaringan sel berfungsi kembali.

Untuk itulah cuci otak dibutuhkan. Kepada para pasiennya, dr. Terawan melakukan flushing, menyemprot 'gorong-gorong' aliran darah yang tersumbat dengan air yang mengandung sodium chloride.

Uniknya, semua tindakan medis dr. Terawan dilakukan secara terbuka. Siapapun dapat memantaunya melalui monitor. Termasuk bagaimana semprotan tersebut menjalar ke pembuluh darah otak pasian, dan bagaimana aliran darah kembali menjadi normal.

Dr Terawan AP Saat Melakukan Operasi

Tengok pengalaman Dudi Hendrakusuma (50), Presiden Direktur ANTV. Dia selama ini punya sejumlah keluhan. "Sering tiba-tiba saya sakit kepala, leher terasa kaku, dan penglihatan jadi kabur. Saya juga sering lupa dan kalau berjalan tiba-tiba penglihatan gelap," ujarnya. 

Dia pun memeriksakan diri ke dr. Terawan. Hasil Magnetic Resonance Imaging (MRI) dan serangkaian pemeriksaan yang dijalaninya memperlihatkan ada sejumlah penyumbatan aliran darah di bagian otak kirinya. Dia berpotensi terserang stroke.
 
Dalam kasus Dudi--yang mengalami lebih banyak penyumbatan di bagian otak kiri--penyemprotan diarahkan dr. Terawan pada otak kiri terlebih dahulu, baru kemudian ke otak bagian kanan. 

Usai menjalani brain spa selama kurang lebih 30 menit, Dudi mengatakan dia merasa kepalanya lebih ringan dan penglihatannya lebih jelas. Ia juga dapat mengingat lebih baik.

Dr. Terawan pun tersenyum. Sembari bercanda, dia lalu mengetes, "Coba baca tulisan di dada saya, Pak, sudah jelas belum tanpa pakai kacamata? Besok diganti ya lensanya." 

Cut Ubit adalah kisah yang lain. Wanita paruh baya asal Aceh ini baru menjalani 'cuci otak' setelah terserang stroke berulang selama satu tahun. Stroke bahkan sudah melemahkan saraf matanya. Ia tak dapat melihat. 

Yang menakjubkan, begitu selesai tindakan medis dr. Terawan, tanpa hitungan jam dia mengaku sudah dapat menggerakkan tangan dan kakinya dengan baik, dan penglihatannya dapat berfungsi kembali! 

Pun demikian dengan Kun Ida, wanita asal Jepara yang tuli selama lima tahun. Usai penyumbatan aliran darah ke otaknya dibersihkan, dia kembali dapat mendengar burung berkicau.

Kontroversi cuci otak

Meski dr. Terawan mengatakan dia sudah menangani ratusan pasien dan berhasil, tetap saja ada yang kontra terhadap metoda temuannya. Rekan-rekannya sesama dokter pun masih mempertanyakannya. Bahkan, ada yang menyalahkannya karena dia adalah seorang dokter radiologi, sementara tindakan medis yang dilakukannya seharusnya merupakan domain dokter ahli saraf. 

Tapi ia tak ambil pusing.

"Saya tidak mungkin menyebarkan ilmu aneh. Saya tidak mau menanggapi pro kontra yang ada. Sebenarnya, orang yang datang ke saya itu bukan karena sakit, hanya untuk membetulkan saraf," kata pria asal Yogyakarta yang hobi bertani ini

Dia mengatakan bersedia memperdebatkan metoda brain spa ini di forum ilmiah dan tidak menyangkal bahwa temuannya ini masih perlu melalui sejumlah tahap penelitian yang ditentukan untuk mendapat pengakuan dunia.

"Pekerjaan ini bukan rekayasa, meski paradigma yang berkembang saat ini mengatakan tidak mungkin ada regenerasi sel otak," katanya.

Toh begitu, sejumlah tokoh dan eksekutif puncak seperti Dudi, tak ragu untuk menjajalnya. Di kalangan ini juga termasuk Menteri Negara BUMN Dahlan Iskan. Dahlan menjalani brain spa karena merasa perlu mengatasi penyumbatan di otak kirinya.

Begitu pula dengan mantan Wakil Presiden Try Sutrisno saat mengalami Transcient Ischemic Attack (TIA), gangguan aliran darah ke otak yang menyebabkan berkurangnya suplai oksigen. 

Dr Terawan AP Saat Melakukan Operasi

Gejala awal stroke

Stroke, atau dalam bahasa medis disebut Cerebrovascular Accident, ternyata bukan saja dapat menyerang orang berusia lanjut. Anda yang masih berusia 30-an pun mungkin saja mengalaminya. Penyebabnya, lagi-lagi, gaya hidup tak sehat.

Ini termasuk kebiasaan merokok, minum alkohol, kurangnya waktu beristirahat, atau dihimpit tekanan berkepanjangan. Pola makan yang salah pun dapat turut memicu serangan stroke yang tiba-tiba. Selain itu juga karena penyakit menahun seperti darah tinggi dan diabetes.

Untuk mengenali serangan yang bisa berakibat fatal ini, spesialis saraf Dr. Tugas Ratmono memaparkan gejala-gejala klinis stroke, sebagai berikut: 

a. Gangguan motorik

Ini berupa gangguan gerakan, karena otot tak berfungsi baik. Seseorang yang diserang stroke, mendadak dapat kehilangan keseimbangan dan lumpuh di beberapa area tubuh.

b. Gangguan sensorik

Ini merupakan gangguan yang mengakibatkan munculnya rasa nyeri atau tak nyaman, bukan hanya di kepala tapi juga di bagian kaki--mulai dari lutut hingga betis. Tak hanya itu, gangguan sensorik juga dapat menyebabkan tubuh terasa pegal.

c. Gangguan otonom

Pada dasarnya, sistem saraf otonom bekerja di bawah kesadaran manusia. Sistem ini mengatur tekanan darah dan frekuensi napas menuju organ tubuh seperti pembuluh darah, jantung, alat kelamin, kelenjar keringat, dan lainnya. Saat stroke menyerang saraf otonom, itu dapat menyebabkan buang air kecil atau buang air besar jadi tak terkontrol, berkeringat berlebihan, serta bernapas jadi tak teratur.

d. Gangguan psikis

Tak sedikit warga masyarakat menyadari bahwa stroke sering kali memunculkan gejala yang berhubungan dengan mental. Misalnya, adanya perubahan perilaku. "Seseorang yang tadinya rajin, jadi tak bersemangat atau malas, bisa tiba-tiba tertawa sendiri atau jadi pendiam," kata Dr. Tugas. (kd)


© VIVA.co.id

SHARE

BERITA TERKAIT
BERITA TERPOPULER
A A A
Kanal Lainnya