Minggu, 20 April 2014
20:24 WIB
Jiwa Korsa Kopassus, Apa Itu?
Istilah ini dikenalkan oleh Napoleon Bonaparte.
Like
Pasukan Kopassus di Perayaan HUT TNI ke-67
Denny Armandhanu | Sabtu, 6 April 2013, 08:46 WIB

VIVAnews - Sebanyak 11 orang anggota Komando Pasukan Khusus menyerang lapas Cebongan dan menewaskan empat orang napi. Insiden ini dilatarbelakangi  jiwa korsa yang dianut para prajurit.

Anggota Komisi I DPR TB Hasanuddin mengatakan, jiwa korsa dalam peristiwa ini ditempatkan dalam posisi yang salah. Harusnya, jiwa korsa digunakan dalam pertempuran untuk menyatukan pasukan sehingga terorganisir dan tidak bergerak sendiri-sendiri.

"Ini teori peperangan yang dibuat oleh Napoleon Bonaparte, yaitu Esprit de corps. Pasukan satu sama lain harus membantu, melindungi, berbagi, mengingatkan, menjaga, dengan kata lain senasib sepenanggungan untuk bersama dalam satu unit memenangkan pertempuran," kata purnawirawan perwira TNI ini kepada VIVAnews, Sabtu 6 April 2013.

Hasanuddin mengatakan bahwa jiwa korsa adalah semangat positif yang sebenarnya dimiliki oleh setiap orang. Dalam kehidupan sehari-hari, kata dia, semangat ini juga tercermin dalam interaksi antar masyarakat.

"Wartawan itu punya jiwa korsa, jiwa satu korps, misalnya yang satu sakit, yang lain menjenguk," jelasnya.

Namun, penempatan jiwa korsa ini harus sesuai dengan keadaan. "Misalnya wartawan ada yang dipukul, lalu temannya yang lain balas memukul atau bahkan menusuk dan menghilangkan jiwa, ini salah," kata dia.

Soal penyerbuan anggota Kopassus ke lapas Cebongan, Hasanuddin mengatakan bahwa ini adalah pelanggaran hukum dan tidak bisa menyalahkan jiwa korsa.

"Saya tidak yakin ini hanya karena jiwa korsa semata, mungkin ada hal lain, termasuk soal disiplin. Kita sepakat, preman harus diberantas, tapi jangan melanggar hukum. Jangan menyalahkan jiwa korsa," ujarnya.

Ketua Tim Investigasi TNI AD Brigjen (CPM) Unggul K Yudhoyono menjelaskan, aksi yang dilakukan 11 personel Grup II Kopassus Kandang Menjangan, Kartasura dilatarbelakangi jiwa korsa. Jiwa korsa mereka terbakar begitu mengetahui rekannya, Serka Heru Santosa, tewas mengenaskan akibat dikeroyok empat preman di Hugo's Cafe, pada 19 Maret 2013 lalu. Sebagian mereka baru turun latihan dari Gunung Lawu dan masih menenteng senjata.(umi)

© VIVA.co.id

Berita Terkait
A A A
Kanal Lainnya