Minggu, 24 Agustus 2014
02:16 WIB
Mengungkap Makna Ekstrem Relief Candi Sukuh
Deretan relief menggambarkan kesuburan.
Candi Sukuh, Karanganyar.
Wuri Handayani, Shalli Syartiqa | Selasa, 26 Maret 2013, 14:20 WIB
VIVAlife - Berada di ketinggian 910 meter di atas permukaan laut, Candi Sukuh, menjadi daya tarik wisata Desa Sukuh, Karanganyar, Jawa Tengah. Meski terbilang jauh dari hiruk pikuk kota, akses untuk menuju candi ini sangat mudah. 
 
Candi Sukuh merupakan komplek candi umat Hindu yang memiliki arsitektur paling beda dari kebanyakan candi di Indonesia. Bentuknya menyerupai piramida Suku Maya di Inca. Dibangun sekitar abad ke-15, nyatanya candi ini tetap meninggalkan bentuk kokoh. Hanya sedikit batu andesit yang terlihat rusak. 
 
Selain keunikan arsitektur, satu lagi alasan para pelancong menyambangi candi ini. Cerita tentang keberadaan arca lingga dan yoni yang melambangkan seksualitas. Tapi sebelumnya, Anda harus mengelilingi candi untuk meresapi cerita.

Candi Sukuh ini memiliki tiga buah gapura dan tiga teras sebagai lambang tahapan mencapai kesempurnaan. Pada teras pertama terdapat gapura sang raksasa pemangsa manusia. Dalam bahasa jawa kuno disebut candrasangkala. 

Di lantai dasar gapura ini juga terdapat relief yang melambangkan sepasang organ intim pria dan wanita saling berhadapan. Sepintas memang tampak tak senonoh. Tapi ini seninya.

Relief ini dibuat tidak tanpa arti. Keduanya menggambarkan pasangan Dewa Syiwa dan istrinya yang melambangkan kesuburan. Konon, para pengunjung yang melangkahi relief tersebut, segala kotoran yang melekat di badan menjadi sirna.
 
Di teras kedua, terdapat patung penjaga pintu atau dwarapala. Selain patung penjaga pintu, sebenarnya banyak peninggalan sejarah lainnya. Sayang semuanya sudah menjadi puing tak berbentuk. 
 
Sementara di bagian teratas, yakni di teras ketiga, Anda dapat menjumpai peralatan besar dan candi utama. Untuk mencapai teras ini Anda harus melewati batuan berundak yang relatif tinggi dan lorong sempit. Menurut cerita, arsitektur memang dibuat demikian untuk menggambarkan alat kelamin wanita.

Tertarik ke sana? Anda cukup membayar retribusi Rp2.500 untuk wisatawan lokal dan Rp10.000 untuk wisatawan asing. Candi ini sendiri dibuka pukul 08.00 - 17.00, setiap hari. 


© VIVA.co.id

SHARE
Halaman 1 2

BERITA TERKAIT
A A A
Kanal Lainnya