Selasa, 23 September 2014
01:14 WIB
Kerajinan Sangkar Burung, Nyaris Bangkrut Kini Tembus Pasar ASEAN
Nyaris gulung tikar, pengrajin sangkar burung kicau bangkit kembali.
Sangkar Burung Kicau
Beno Junianto,  Daru Waskita (Yogyakarta) | Selasa, 12 Maret 2013, 16:40 WIB
VIVAnews - Nyaris gulung tikar akibat dari maraknya unggas khusus jenis burung kicau akibat flu burung yang melanda Indonesia maupun dunia internasional, kini pengrajin sangkar burung kicau di Dusun Botokan, Desa Argosari, Kecamatan Sedayu, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) kembali bergairah untuk memproduksi sangkar burung jenis kicau.

Di Dusun Botokan ini hampir separuh penduduknya yang berjumlah sekitar 200 kepala keluarga menggantungkan hidupnya dari produksi sangkar burung kicau. Dari sekitar 200 kepala keluarga itu mereka bekerja secara berkelompok antara 5 hingga 10 orang dalam satu kelompok pengrajin sangkar burung kicau.

Meski sudah berupaya untuk menggenjot produksi sangkar burung, dengan asumsi setiap pengrajin dalam dua hari dapat menyelesaikan satu sangkar burung belum termasuk proses finishing-nya, kelompok pengrajin sangkar burung ini belum mampu untuk memenuhi permintaan dari pemesan.

“Kita bahkan sering mendapatkan titipan uang terlebih dahulu dari pembeli meski sangkar burung yang dipesannya belum jadi,” kata Sugito, salah seorang pengrajin sangkar burung kicau di Dusun Botokan, Desa Argodadi, Kecamatan Sedayu, Kabupaten Bantul, DIY, Selasa, 12 Maret 2013

Sugito menceritakan, kerajinan sangkar burung kicau ini merupakan warisan turun-temurunan dari nenek moyang yang tinggal di Dusun Botokan dan diteruskan oleh keturunannya. Sehingga banyak masyarakat di Dusun Botokan ini tidak perlu lagi belajar jauh-jauh untuk merangkai sebuah sangkar burung kicau.

“Kerajinan sangkar burung kicau ini merupakan warisan dari nenek moyang sehingga tidak perlu jauh-jauh untuk belajar membuat sebuah sangkar burung kicau,” tandasnya

Sebelum tahun 1990, kata Sugito, bahan baku yang digunakan oleh para perajin sangkat burung kicau berasal dari rotan, namun karena bahan baku rotan semakin sulit didapatkan dan harganya juga mulai tidak terjangkau lagi oleh pengrajin, maka setelah tahun 1990-an, bahan baku yang digunakan untuk membuat sangkar burung kicau beralih ke bambu.

“Bahan baku bambu mudah diperoleh di sekitar kampung dan harganya relatif murah dan lebih tahan lama dibandingkan dengan bahan baku dari rotan,” paparnya

Ayah dari 3 anak ini mengaku pasar dari sangkar burung yang dipesan oleh pembeli tidak saja dikota-kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Surabaya dan kota-kota besar di luar Jawa, namun demikian ada juga pesanan sangkar burung kicau ini yang dijual hingga Negara Thailand.

“Untuk harga sangkar burung kicau yang standar berkisar antara Rp50.000 hingga Rp250.000, namun demikian untuk sangkar burung kicau yang istimewa atau dilengkapi dengan hiasan pada sangkar burungnya, harganya bisa mencapai R p.500.000,” tandasnya

Anggraito salah seorang pengrajin sangkar burung yang lainnya mengatakan, agar sangkar burung bertahan lama, maka bahan utama yaitu bambu terlebih dahulu dipotong-potong sesuai dengan ukuran dan kebutuhan. Selanjutnya bambu yang telah dipotong dibelah dan direndam dalam air dalam beberapa hari.

Setelah itu, belahan bambu yang direndam dalam air diangkat dan dikeringkan. Selanjutnya belahan bambu itu diproses atau dibuat menjadi batangan bambu dengan ukuran sebesar lidi untuk pembuatan jeruji sangkar dan juga sebagian bahan bambu dibuat untuk kerangka sangkar burung kicau.

“Untuk membuat satu sangkar burung jadi belum termasuk proses finishing dibutuhkan waktu 2 hari,” katanya

Sedangkan untuk sangkar burung kicau yang istimewa dengan berbagai aksesoris dan pengecatan yang rumit, maka untuk membuat 2 hingga 3 sangkar burung kicau istimewa dibutuhkan waktu hingga 15 hari.

“Karena pengerjaannya sangat rumit dan butuh kesabaran maka waktu yang dibutuhkan cukup lama, bisa sampai setengah bulan untuk 2 hingga 3 sangkar burungkicau,” tandasnya

Lebih lanjut Anggraito mengatakan, masyarakat di dusun Botokan ini tetap mempertahakan kerajinan pembuatan sangkar burung ini dengan cara tradisional dan bukannya menggunakan alat pabrikan. Masyarakat lebih percaya dengan alat tradisional ini akan menjaga kualitas dari sangkar yang dihasilkan dan tidak terlalu membutuhkan biaya yang mahal untuk membeli mesin.

“Kualitas sangkar burung akan ditentukan oleh kesabaran dan keuletan serta kreatifitas dari masing-masing pengrajin,” kata dia. (umi)



© VIVA.co.id

SHARE

BERITA TERKAIT
BERITA TERPOPULER
A A A
Kanal Lainnya