Selasa, 30 September 2014
18:48 WIB
Cara BI Menjaga Cadangan Devisa
Cadangan devisa BI per 28 Februari sebesar US$105,2 miliar.
Petugas menghitung uang dolar AS.
Antique, Nina Rahayu | Jum'at, 8 Maret 2013, 15:42 WIB

VIVAnews - Bank Indonesia mengungkapkan bahwa tingginya permintaan valuta asing telah menggerus ketersediaan cadangan devisa. Cadangan devisa BI per 28 Februari sebesar US$105,2 miliar, angka itu setara dengan 5,7 bulan impor dan ditambah utang luar negeri pemerintah.

Sementara itu, pada akhir Januari 2013, cadangan devisa masih mencapai US$108,8 miliar.

"Tapi, beberapa waktu terakhir, dengan kebijakan BI, kami menilai cukup berhasil. Pasar cenderung mulai nyaman," kata Deputi Gubernur BI, Halim Alamsyah, di Gedung BI, Jakarta, Jumat 8 Maret 2013.

Halim menjelaskan, BI akan memantau terus pasokan valas, dan mencoba meningkatan likuiditas. Upaya itu dilakukan bila terjadi banyaknya permintaan.

Menurut dia, dalam beberapa waktu terakhir, pasar valas masih stabil dengan kebijakan BI yang mencoba melakukan intervensi di pasar. "Kami menilai pemberlakuan itu cukup berhasil, pasar sudah masuk ke dalam zona yang nyaman pada situasi yang ada," ujarnya.

Halim menambahkan, kalau dilihat dari arus dana asing, juga sudah mulai masuk ke Indonesia. Pada tahun lalu, dalam jangka pendek sekitar US$6 miliar. Tapi, tahun ini, hingga Februari berkisar US$2,3 miliar.

"Hal itu menunjukkan bahwa para pelaku pasar valas sudah mulai ada keyakinan. Pasar valas bisa terkendali dengan nyaman," jelasnya.

Rupiah
Sementara itu, BI juga optimistis, dengan membaiknya perekonomian di negara berkembang, akan berdampak positif pada penguatan nilai tukar rupiah.

Halim Alamsyah mengungkapkan, penguatan rupiah didorong membaiknya ekonomi mitra dagang Indonesia, seperti China dan Singapura. Hal tersebut membuat investor yakin untuk menanamkan investasinya di Indonesia.

"Saya pikir, tahun ini, pada Januari sampai dengan kemarin (year to date), rupiah justru menguat," kata dia.

Selain penguatan nilai tukar, sinyal positif juga tercermin dari tingginya level indeks harga saham gabungan (IHSG) di pasar modal. IHSG berada di level 4.824 pada 6 Maret 2013, setelah dua hari sebelumnya terkoreksi di posisi 4.751 dan 4.761.

"Investor sudah cukup yakin dengan kondisi ekonomi kita. Itu tercermin dari IHSG, dan kita berharap semakin banyak inflow terkait ketersediaan suplai valas," tegas Halim. (art)

© VIVA.co.id

SHARE

BERITA TERKAIT
BERITA TERPOPULER
Kanal Lainnya