Rabu, 22 Oktober 2014
10:10 WIB
Dampak Perceraian Orangtua Terhadap Psikologis Anak
Banyak orangtua tak sadar perceraian mereka berdampak pada psikologis.
Anak seringkali menjadi korban utama akibat percerian kedua orangtuanya.
Maya Sofia, Tasya Paramitha | Jum'at, 1 Maret 2013, 05:38 WIB

VIVAlife - Dewasa ini, perceraian menjadi hal yang tidak tabu lagi. Banyak pasangan, termasuk dari kalangan masyarakat biasa hingga artis memutuskan bercerai ketika tak mampu lagi mempertahankan biduk rumah tangga.

Bagi mereka yang belum memiliki anak, hal ini tentunya tak menjadi masalah. Namun bagaimana dengan pasangan yang sudah memiliki anak, lalu memilih jalan perceraian?

Jawabannya, tentu saja anak dalam hal ini kembali menjadi korban. Banyak orangtua tak sadar bahwa perceraian mereka berdampak pada psikologis, pendidikan, dan tumbuh kembang anak.

Psikolog sekaligus pemerhati anak, Seto Mulyadi mengatakan, perceraian membuat anak merasa sedih dan tidak lengkap. "Mereka cenderung menjadi tidak bersemangat, gelisah, bingung, tidak dapat konsentrasi belajar, susah makan dan sebagainya," ujar pria yang akrab disapa Kak Seto ini kepada VIVAlife.

Kak Seto juga menekankan bahwa suatu hal yang menimbulkan ketegangan pasti akan berdampak pada psikologis anak. Walaupun begitu, orangtua haruslah jujur dan memberi pengertian mengenai apa yang terjadi.

Menurutnya, anak-anak yang usianya sudah lewat dari masa balita yaitu duduk di bangku Taman Kanak-kanak sudah dapat diberi pengertian mengenai perpisahan orangtuanya. Kak Seto yang sering menangani permasalahan anak-anak korban perceraian juga berbagi mengenai pengalamannya tersebut.

"Saya biasanya menampung curhat dan keluh kesah mereka. Memang awalnya rata-rata mereka tidak mau ngomong langsung. Jadi harus dipancing dengan menggambar, bermain dan sebagainya," ucap Kak Seto.

Lalu, apa yang sering dikatakan anak-anak tersebut padanya? "Mereka umumnya bilang kangen dan cerita biasanya orangtua mereka lengkap ada ayah dan ibu sekarang hanya ayah atau ibu saja. Banyak juga yang cerita misalnya salah satu orangtua sering marah-marah atau ada yang bahkan sampai melakukan kekerasan fisik. Hal-hal tersebut juga dapat menimbulkan anak benci terhadap salah satu pihak," ucapnya.

Anggapan yang beredar di tengah masyarakat mengenai anak-anak korban perceraian adalah lebih rentan mengalami masalah-masalah, seperti tidak naik kelas, pergaulan buruk, perilaku menyimpang, bullying, merokok, narkoba dan sebagainya jika dibandingkan dengan anak-anak normal lainnya. Menurut Kak Seto hal tersebut memang umum terjadi, terutama ketika anak-anak tersebut tidak ditangani dengan baik.

"Begitu juga dengan anak-anak yang melihat langsung pertengkaran orangtua dan menyaksikan kekerasan yang dilakukan di depan matanya cenderung dapat melakukan hal yang sama karena perilaku anak muncul karena belajar, mengamati dan meniru. Anak-anak selalu merekam apa yang mereka lihat," katanya.

Kak Seto menuturkan, hal-hal tersebut dapat dicegah dan dihindari dengan penanganan dari psikolog dengan cara terapi. Sementara untuk meminimalisir dampak perceraian terhadap anak, ujarnya, orangtua sebisa mungkin jangan terlibat konflik di depan anak-anak mereka. Selain itu, orangtua juga harus berupaya sering mengadakan pertemuan keluarga agar anak tetap merasakan kehadiran kedua orangtuanya.

"Lalu orangtua juga harus berani meminta maaf tentang perceraian kepada anak. Dan yang terakhir, usahakan selalu ada untuk mendengarkan curhat anak dan menawarkan bantuan untuk membantu menyelesaikan masalah dan kegelisahan anak," ucap Kak Seto.

© VIVA.co.id

SHARE

BERITA TERKAIT
BERITA TERPOPULER
Kanal Lainnya