Minggu, 26 Oktober 2014
02:40 WIB
Tahun Depan Ekonomi RI Tumbuh 6,3%, Mengapa Masih Mendatar
Masih bertumpu pada konsumsi dan investasi.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia
Nur Farida Ahniar, Alfin Tofler | Selasa, 11 Desember 2012, 08:18 WIB

VIVAnews- Komite Ekonomi Nasional (KEN) menilai bahwa ekonomi Indonesia pada 2013 akan tumbuh sekitar 6,1-6,3 persen. Angka ini jauh lebih kecil dari perkiraan pemerintah. Tim ekonomi pemerintah memperkirakan bahwa pertumbuhan akan melaju sebesar 6,8 persen.

Komite Ekonomi Nasional adalah sebuah komite yang terdiri dari sejumlah pengusaha dan para pengamat ekonomi. Mereka bertanggungjawab langsung kepada presiden. Mereka kerap melakukan kajian ekonomi. "Perkiraan kami memang lebih kecil, tapi ini lebih realistis," kata Ketua Komite Ekonomi Nasional, Chairul Tanjung,  dalam acara Prospek Ekonomi Indonesia 2013 di Jakarta, Senin 10 Desember 2012.

Prediksi komite itu tidak berbeda jauh dari asumsi Bank Indonesia. Dengan mempertimbangkan sejumlah faktor internal dan ekonomi global, Bank Sentral itu memperkirakan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia akan melaju di rentang 6,3-6,7 persen.

Bagaimana KEN menghitung jumlah pertumbuhan itu? Chairul Tanjung menguraikan bahwa tahun depan pertumbuhan ekonomi masih akan ditopang oleh dua hal: konsumsi nasional dan investasi. Baik investasi asing maupun domestik. Soal ekspor-impor, kata Chairul, diprediksi masih belum membaik. Bakal masih mendatar.

Melandai, sebab lanjut Chairul, pada tahun depan itu perekonomian dunia belum kunjung menggeliat. Banyak negara di belahan benua Eropa masih berkutat dengan krisis keuangan, yang menyebabkan impor mereka melemah dan mempengaruhi ekspor sejumlah negara, termasuk kita.

Belum membaiknya ekonomi sejumlah negara itu, menyebabkan sejumlah lembaga lembaga perekonomian dunia mengoreksi perkiraan pertumbuhan ekonomi dunia. Perkembangan ekonoomi global juga patut diwaspadai, sebab jika memburuk akan memukul ekonomi kita.

Krisis Eropa berpeluang memburuk tajam. Apalagi, lanjut Chairul, "Amerika Serikat masih memberlakukan pengetatan fiskal secara masi." Di barat ekonomi masih kelabu, di timur situasi politiklah yang murung. Sejumlah negara di Timur Tengah masih dirundung kemelut politik. Padahal dari kawasan itulah minyak dunia mengalir. Jika kisruh di sejumlah negara di sana tak kunjung berakhir, bukan tak mungkin pasokan minyak dunia langka, yang pada ujungnya melambungkan harga.

Pada tahun 2013, ekonomi Indonesia melaju di tengah situasi yang kurang menentu itu. Itu sebabnya, Komite Ekonomi Nasional (KEN) memberikan sejumlah saran kepada pemerintah. Salah satunya adalah menyesuaikan harga bahan bakar minyak dan listrik.

Selain itu pemerintah juga harus mempersiapkan diri, mempersiapkan seluruh birokrasi yang ada dan segera mengambil tindakan yang terukur, demi menjaga keyakinan para investor. Salah satu langkah menjaga keyakinan itu adalah dengan memprioritaskan pembuatan Undang-Undang Jaring Pengaman Sistem Keuangan (JPSK).

"Undang-undang Jaring Pengaman Sistem Keuangan(JPSK) harus menjadi prioritas dalam persidangan DPR pada 2013," kata Chairul.  Dengan mempercepat pengesahan undang-undang itu, para pengambil keputusan tidak akan gamang dan linglung mengambil resiko jika krisis memburuk.

Hal lain yang harus dilakukan pemerintah adalah menyiapkan ruang fiskal yang cukup, sebagai amunisi jika krisis ekonomi global terus menekan. Komite Ekonomi Nasional (KEN) juga meminta agar pemerintah menekan subsidi energi yang saat ini sudah sangat tinggi. Harga BBM yang rendah saat ini mengakibatkan ekonomi Indonesia tidak efisien.

Selain itu, perbaikan daya saing harus dilakukan oleh pemerintah sejalan dengan meningkatnya kemampuan ekonomi nasional untuk menciptakan lapangan kerja. Perbaikan daya saing ini penting untuk penyerapan tenaga kerja domestik.

Pemerintah, pemilik CT Corp ini melanjutkan, harus mengevaluasi permasalahan tenaga kerja secara komprehensif dan mengambil inisiatif sebagai solusi kebuntuan perundingan masalah tenaga kerja.

Rekomendasi terakhir adalah pemerintah harus mempertahankan daya beli masyarakat. Pemerintah harus menjaga harga barang dengan pemenuhan berbagai instrumen seperti perbaikan distribusi, logistik, dan modernisasi pasar tradisional.

"Mengefektifkan peran Bulog untuk mencegah terjadinya persekongkolan dalam penentuan harga barang kebutuhan pokok," katanya.

Menteri Perekonomian Hatta Rajasa sebelumnya mengakui target pemerintah sebesar 6,8 persen terlalu tinggi. Namun ia memastikan pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak akan tumbuh di baah 6,3-6,5 persen.

"Memang target kita 6,8 persen. Tapi kita harus realistis untuk ini," ujar Hatta beberapa waktu lalu.

Hatta menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia masih akan di bayang-bayangi oleh penyelesian krisis Eropa yang belum menemukan titik temu. Hal ini tentunya akan berdampak pada turunnya ekspor sejumlah negara seperti Cina dan India.

"Dan kita berharap tahun depan akan baik dan bagaimanapun  Amerika belum mendapatkan jalan yang baik," ujarnya.

Sementara dari sisi investasi, tahun depan investasi akan terus tumbuh terutama sektor manufaktur dan pertambangan. Untuk menyerap investasi, pemerintah juga menganggarkan Rp200 triliun di sektor infrastruktur.

Kunci Pertumbuhan Ekonomi


Gubernur Bank Indonesia, Darmin Nasution, mengungkapkan bahwa kunci sukses Indonesia dalam menghadapi krisis ekonomi saat ini adalah ketahanan. Namun yang harus diperhatikan apakah ketahanan itu akan cukup kuat membendung krisis global secara jangka panjang.

Menurutnya ketahanan ekonomi Indonesia tersebut diperoleh karena pemerataan pertumbuhan ekonomi yang terjadi di seluruh daerah. Hal itu membuat konsumsi domestik semakin kuat menopang pertumbuhan ekonomi.

"Karena itu, sumbernya konsumsi, itu pertama-tama datang dari otonomi daerah. Dengan itu, 30 persen APBN dialokasikan ke seluruh daerah, yang tak pernah kita lakukan di masa lalu," ujar Darmin di Jakarta, Rabu 28 November 2012.

Tingginya konsumsi tersebut, dia melanjutkan, didukung dengan peningkatan investasi pada tahun ini. Kedua, motor ekonomi tersebut, dapat menopang penurunan ekspor yang terjadi akibat gejolak harga komoditas internasional.

"Pada saat yang sama, kita memiliki bonus demografi, yakni tumbuhnya kelas menengah di Indonesia. Itu momentum luar biasa bagi setiap bangsa," tambah Darmin.

Untuk itu, menurut Darmin, kunci dalam menjaga ketahanan ekonomi yang dimiliki adalah pengelolaan APBN yang efisien dan tepat sasaran, sehingga benteng penahan krisis akan tetap kuat. "Jadi, percayalah dunia boleh mengalami krisis, ekonomi kita tetap kuat," tuturnya.

Sebelumnya Asian Development Bank  (ADB) menilai Indonesia memiliki problem konektivitas karena sarana transportasi yang buruk. Untuk itu, ADB mendukung program jangka panjang Masterplan  Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) dengan memberikan bantuan perbaikan peningkatan konektivitas domestik dan internasional.

"Konektivitas yang kurang baik, kendala infrastruktur dan biaya logistik yang tinggi menghalangi  Indonesia untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan melakukan upaya pemerataan kesejahteraan bagi seluruh penduduk Indonesia," kata Edimon Ginting, Wakil Kepala Kantor Perwakilan ADB di Indonesia.

Edimon mencontohkan sekitar 70 persen perbedaan harga beras di daerah di seluruh Indonesia diakibatkan oleh biaya pengiriman. Itu merupakan cerminan dari kondisi buruknya jalan, pelabuhan yang padat, dan belum berkembangnya sistem transportasi antar pulau.

© VIVA.co.id

SHARE

BERITA TERKAIT
BERITA TERPOPULER
Kanal Lainnya