Senin, 21 April 2014
08:59 WIB
Oktober, Neraca Perdagangan RI Defisit
Neraca perdagangan RI pada Oktober defisit sebesar US$1,55 miliar.
Like
Pekerja peti kemas di Jakarta International Container Terminal
Ismoko Widjaya, Iwan Kurniawan | Senin, 3 Desember 2012, 14:18 WIB

VIVAnews - Nilai ekspor Indonesia per Oktober 2012 mengalami penurunan sebesar 1,45 persen dibanding September 2012 menjadi US$15,67 miliar. Bila dibandingkan dengan nilai ekspor Indonesia pada Oktober tahun lalu, penurunan mencapai 7,61 persen.

Penurunan ekspor Oktober 2012 itu disebabkan menurunnya ekspor non-migas sebesar 3,42 persen. Secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia Januari hingga Oktober 2012 mencapai US$158,66 miliar atau turun 6,22 persen dibanding periode sama 2011.

"Penurunan ekspor non-migas merupakan yang terbesar, karena adanya penurunan pada produk lemak serta minyak hewan dan nabati," kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa, Badan Pusat Statistik (BPS), Sasmito Hadi Wibowo, di kantor BPS, Jakarta Pusat, Senin 3 Desember 2012.

Untuk ekspor non-migas tujuan China pada Oktober 2012 mencapai US$1,82 miliar, disusul Jepang US$1,42 miliar, dan Amerika Serikat senilai US$1,15 miliar. Dengan kontribusi ketiganya mencapai 34,66 persen. Masih di periode yang sama, ekspor non-migas ke Uni Eropa sebesar US$1,48 miliar.

Sementara itu, ekspor hasil industri juga mengalami penurunan. Ekspor hasil industri pada periode Januari hingga Oktober 2012 turun sebesar 5,3 persen dibanding periode sama 2011. Demikian juga ekspor hasil tambang turun 9,53 persen dibanding periode sama tahun lalu.

Di sisi lain, hanya ekspor hasil pertanian yang meningkat. Ekspor pertanian pada periode Januari hingga Oktober 2012 meningkat sebesar 10,54 persen dibanding tahun sebelumnya.

"Kontribusi ekspor produk industri adalah 60,86 persen. Sedangkan kontribusi produk pertanian mencapai 2,9 persen. Sektor pertanian telah mengalami peningkatan," tambah Sasmito.

Neraca defisit

Sementara itu, nilai impor Indonesia periode Oktober 2012 mencapai US$17,21 miliar atau naik sebesar 12,16 persen jika dibanding September 2012. Tapi, bila dibandingkan data impor pada Oktober tahun lalu, angka itu naik 10,82 persen.

Selama Januari hingga Oktober 2012, nilai impor mencapai US$159,18 miliar atau meningkat 9,35 persen bila dibanding periode sama tahun lalu. Lebih lanjut Sasmito mengatakan, peningkatan impor itu disebabkan adanya kenaikan impor non-migas sebesar 12,75 persen, dan pertumbuhan impor migas 11,48 persen.

Secara rinci, peningkatan impor migas lebih disebabkan oleh peningkatan impor minyak mentah dan gas. Masing-masing sebesar 1,62 persen dan 109,51 persen. Selama 13 bulan terakhir, nilai impor migas tertinggi tercatat pada April 2012 dengan nilai US$412,4 juta.

Sementara itu, nilai impor non-migas tertinggi tercatat pada Mei 2012 sebesar US$13,59 miliar.

Dia menjelaskan, lonjakan terjadi pada impor pesawat terbang. Pada Oktober lalu terjadi peningkatan impor delapan unit pesawat terbang atau 152,6 persen, dari US$165,7 juta pada September 2012 menjadi US$418,6 juta.

"Impor pesawat merupakan kategori impor tidak biasa. Volume impor pesawat yang melonjak, kemudian sparepart-nya," katanya.

Melihat adanya perbandingan yang begitu jelas antara ekspor dan impor pada periode Oktober 2012, maka neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit sebesar US$1,55 miliar. Sedangkan kumulatif perdagangan periode Januari hingga Oktober 2012 mengalami defisit US$516 juta.

"Defisit itu terjadi tidak lain karena adanya perbedaan yang mencolok antara ekspor dan impor periode Januari-Oktober 2012," kata Sasmito. (art)

Laporan: Untung Prasetyo

© VIVA.co.id

Berita Terkait
A A A
Kanal Lainnya