Sabtu, 20 September 2014
08:54 WIB
"Saya Gagal Meyakinkan Bupati"
Dicky Chandra telah resmi mengajukan pengunduran diri sebagai Wakil Bupati Garut.
Dicky Chandra
Arry Anggadha, Nur Eka Sukmawati | Senin, 7 November 2011, 11:55 WIB

VIVAnews - Dicky Chandra telah resmi mengajukan pengunduran diri sebagai Wakil Bupati Garut ke Kementerian Dalam Negeri. Meski surat sudah diajukan, namun, sampai saat ini status mantan pesinetron itu masih belum jelas.

Saat ditemui VIVAnews.com, di Studio ANTV, Jakarta, Sabtu malam, 5 November 2011, Dicky Chandra mengakui sampai saat ini dirinya masih bertugas sebagai Wakil Bupati Garut. Namun, fasilitas sebagai wakil bupati sudah diblokir.

Akibat pengunduran dirinya itu, Dicky mengakui hubungannya dengan Bupati Aceng H M Fikri juga ikut terganggu. Hubungannya kini renggang. Namun, pria kelahiran Tasikmalaya, 12 Mei 1974, itu enggan menyebut ada permasalahan antara dirinya dan Bupati Aceng Fikri.

Menurut Dicky, dirinya masing ingin mengabdi untuk Garut. Bahkan dia sudah menciptakan lagu khusus untuk masyarakat Garut.

Berikut wawancara khusus reporter VIVAnews.com, Nur Eka Sukmawati dengan Dicky Chandra:

Apa surat persetujuan mundur sudah diterima?
Masih menunggu. Makanya seperti digantung.

Tapi masih tetap berkantor?
Senin-Jumat masih tetap bekerja, kalau Sabtu-Minggu ini saya sudah minta ijin via sms kepada Pak Bupati. Saya menjadi juri di acara ini (Tabligh Dai Muda Pilihan) untuk menaikkan tagline Garut, jadi saya rencananya ingin bikin sepasang banner untuk mengangkat kopi, teh, dan lain-lain, dan saya tidak mau pakai duit rakyat InsyaAllah. Mudah-mudahan dari sini ada hasilnya, nanti kita bikin banner-nya.

Senin-Jumat itu masih mengerjakan tugas sebagai Wakil Bupati Garut?
Masih mengerjakan tugas-tugas. Tugas wakil bupati itu apa sih, hanya masalah-masalah seperti seremonial lah, tapi ya kita coba selesaikan pekerjaannya.

Tapi ya tidak bisa dipungkiri kalau saya sudah tidak nyaman dengan kondisi yang paling tidak enak di dunia ini yaitu ketidakpastian, itu yang saya sedihkan.

Bahkan terakhir handphone sekretaris pribadi saya sudah diblokir. Makanya saya datang ke sini tidak bawa sopir, tidak bawa ajudan, saya tidak bawa pengawal pribadi, saya nyetir sendiri ke sini, saya tidak pakai SPPD atau uang perjalanan dinas, semua saya sendiri.

Waktu saya jadi wakil bupati, punya ajudan, punya sopir, punya gaji, punya tunjangan, bisa ketemu pejabat, dan segala macam. Begitu saya mundur malah jadi seperti ini, padahal waktu saya jadi Wakil Bupati, saya dihormati, saya dikawal.

Mungkin kalau saya gila terhadap tahta atau jabatan, saya mungkin tersinggung dengan perlakuan seperti ini, tapi saya biasa saja.

Diblokir kenapa?
Mungkin keblokir atau bagaimana saya tidak tahu, tapi katanya sih mau dihidupkan lagi. Tapi ya tidak apa-apalah, saya tak tahu.

Apa Anda mendapat tekanan setelah menyatakan ingin mengundurkan diri?
Tidak lah. Saya siap apapun tekanan yang muncul, itu memang sudah risiko dari sebuah keputusan, pasti akan ada, tapi buat saya tidak masalah, itu lah dinamika politik.

Sikap teman-teman kantor bagaimana ke Anda?
Kalau masalah hati saya tidak tahu ya. Tapi sampai detik ini teman-teman banyak yang telepon dan segala macam. Tapi memang mereka kalau bertemu langsung dengan saya takut sekali karena masalah politis ini kan takutnya disalahartikan, ini juga yang membuat tidak nyaman. Saya kasihan juga dengan teman-teman dinas.

Saya dan SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah) sangat dekat sekali hubungannya, tidak seperti Wakil Bupati dengan SKPD. Problemnya sekarang menjadi jauh karena saya sendiri memang tidak ingin membuka ruang terlalu besar karena memang politik ini bisa menjadi sesuatu, nanti malah kasihan teman-teman dinas saya. Maka saya bilang ke mereka, bekerjalah dan saya kontrol. Terus mereka bilang Pak Alhamdulillah kami tetap bekerja dan kami berharap Bapak untuk tetap menjabat.

Setelah Anda menyatakan diri ingin mengundurkan diri, apa ada perbaikan managemen di Kabupaten Garut?
Saya bisa jawab tidak. Saya datang ke Garut itu dengan konsep saya harus membina beberapa Kepala Dinas yang merupakan warisan dalam hal pada saat perekrutan pejabat jarang melalui fit and proper test yang benar.

Saya punya konsep ya lakukan fit and proper test selama seminggu. Nanti kita tes oleh Tim Akademisi dari luar, jangan Dicky Candra, jangan Wakil Bupati yang men-tes, tapi itu tidak jalan, tetap saja turun temurun.

Konsep Anda untuk Garut selain hal di atas apa saja?
Saya membuat desain yang 'No APBD Garut'. Kita sudah punya budaya, iklan jeruk Garut, iklan dodol Garut, dan macam-macam, tapi itu tidak menggunakan APBD Garut. Kenapa saya lakukan itu, karena akan terjadi perputaran ekonomi yang signifikan, dan itu tanpa uang rakyat, tapi pertanyaannya yang lain kemana.

Jadi saya pesan, kalau saya sudah tidak berada di Garut, manfaatkanlah kepercayaan rakyat. Kenapa saya mundur? karena saya gagal meyakinkan Bupati agar lebih fokus lagi dalam membina SKPD  supaya Bupati yang memberikan kebijakan dapat mengarahkan setiap kebijakannya untuk betul-betul menjadi embrio bagi SKPD. Saya gagal meyakinkan Bupati.

Surat dari DPRD Jabar belun turun ke Mendagri?
Sudah, cuma memang surat dari DPRD itu belum ada jawabannya iya atau menyarankan untuk Wabup untuk mencabut. Bayangan saya tadinya kalau memang setuju tinggal katakan saya setuju Dicky mundur, tapi kalau tidak setuju karena ini hak konstitusi maka DPRD bisa bilang saya menyarankan agar Wabup mencabut, tapi kenyataannya DPRD melanjutkan.

Kalau melanjutkan berarti bisa diartikan menyetujui, dan Kemendagri sudah tidak boleh menegosiasi karena Kemendagri wewenang menurunkan atau mencabut SK. Problemnya Pak Menteri mungkin karena bingung, setuju atau tidaknya belum jelas karena ini hanya melanjutkan surat.

Ada pendapat karena selama ini belum pernah ada calon independen terpilih yang mundur?
Memang betul tidak ada penjelasan tentang itu. Tapi saya hanya menjalankan undang-undang bahwa mengundurkan diri atas permintaan sendiri itu ada di UU. Saya kan menjalankan dan patuh dengan UU, kenapa saya disalahkan, saya bingung.

Sikap dari Pak Bupati ada perubahan atau tidak?
Yang jelas beda, sekarang jadi lebih sulit lagi. Tapi itu wajar karena manusiawi mungkin beliau jadi merasa tersudutkan, atau segala macam.

Seolah-olah jadi seperti konflik pribadi?
Seolah-olah mungkin begitu ya. Tapi hidup itu adalah pilihan. Saya juga mohon maaf kepada beliau dan saya pernah bilang, kalau saya ditunjuk sebagai staf ahli silakan, saya masih bisa memantau Garut agar lebih baik.

Saya buat lagu untuk masyarakat Garut, bukan untuk Bupati bahwa saya masih mencintai Garut. Liriknya kurang lebih seperti ini: "Aku masih mencintaimu, masih menyayangimu, tapi maafkan aku, harus ku tinggalkan kamu, jangan tanyakan alasanku kenapa aku pergi, yang harus kamu tahu aku masih mencintaimu."

Itu benar ditujukan untuk rakyat, bukan Bupati?
Untuk rakyat.

Dalam waktu dekat akan menemui Pak Mendagri?
Saya butuh kepastian dari Kemendagri mau bagaimana memutuskan dan keputusannya seperti apa. Saya mau tulis surat untuk DPRD Garut karena saya kan milik rakyat dan Pak Presiden. Sudah disusun suratnya, tapi saya belum tahu apakah akan saya arahkan ke DPRD atau ke Kemendagri. (eh)

© VIVA.co.id

SHARE

BERITA TERKAIT
BERITA TERPOPULER
A A A
Kanal Lainnya