Kamis, 23 Oktober 2014
08:33 WIB
Khusuknya Upacara HUT RI di 'Istana' Pemulung
Kegiatan ini merupakan agenda rutin yang sangat dinanti oleh para pencari sampah.
Ratusan Pemulung di Bantar Gebang Bekasi peringati HUT RI Ke-66
Desy Afrianti | Rabu, 17 Agustus 2011, 11:48 WIB

VIVAnews - Suasana khusyuk upacara peringatan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia HUT RI ke-66 tidak hanya dijumpai di Istana Merdeka. Pagi tadi, sekitar 100 orang pemulung yang biasa mencari nafkah di sekitar Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang Bekasi mengikuti upacara menaikan Bendera Merah Putih. Upacara dilaksanakan di sekitar halaman parkir alat berat dan truk.

Kegiatan ini merupakan agenda rutin yang sangat dinanti oleh para pencari sampah. Selain pemulung, upacara ini juga diikuti oleh karyawan PT Godang Tua Jaya selaku pengelola TPST, pegawai Kelurahan dan Kecamatan, Polsek, Koramil, tokoh masyarakat, tokoh agama dan tokoh pemuda di Bantar Gebang.
 
Bertindak sebagai inspektur upacara Direktur Utama PT Godang Tua Jaya, Rekson Sitorus. Komandan upacara Danramil Bantar Gebang, Kapten Chaidir Chan, sementara pengibar Bendera Merah Putih merupakan Satpam TPST Bantar Gebang. Selama upacara berlangsung, para pemulung tampak khidmat mengikuti setiap rangkaian peringatan detik-detik proklamasi.

"Ini merupakan yang ketiga kalinya kami melibatkan pemulung untuk ikut upacara bendera. Latar belakang dilibatkannya pemulung, adalah karena dia juga merupakan Warga Negara Indonesia, kedudukannya sama dengan kita," ujar Rekson Sitorus, usai upacara.

Menurutnya, waktu bagi pemulung merupakan sesuatu yang sangat berharga, sehingga antusias para pemulung untuk mengikuti upacara membuktikan bahwa mereka masih memiliki rasa Nasionalisme. "Bagi mereka waktu adalah uang. Saya kagum dengan antusiasnya mereka mengikuti upacara ini," kata dia.

Sementara itu Mamat (23) pemulung asal Indramayu Jawa Barat mengaku selalu ikut upacara peringatan HUT RI setiap tahun. Menurut pria yang sudah sejak umur 10 tahun menjadi pemulung ini, upacara peringatan kemerdekaan sangat berarti, karena dari situlah dia bisa mengenang jasa para pahlawan.

"Tapi saya sedih mas, meskipun sudah merdeka sekarang masih banyak orang susah. Barang-barang sembako pada mahal, apalagi pas mau lebaran," tuturnya.

Mamat yang kini masih hidup membujang, bisa mengumpulkan uang sebesar Rp25-35 ribu perhari dari usahanya memilah sampah plastik untuk dijual ke seorang tengkulak.

"Penghasilan segitu cuma cukup buat makan sehari-hari mas. Ini juga saya lagi bingung, tidak punya uang buat mudik. Saya sih berharap pemerintah mau memperhatikan nasib orang kecil kaya saya ini," tambahnya.

Usai upacara, pengelola membagikan sumbangan uang kepada masyarakat dan pemulung disekitar TPST Bantar Gebang. Upacara ini sendiri disambut antusias, terbukti dengan banyaknya pemulung dan warga yang tidak bisa ikut upacara, dan terpaksa menjadi penonton.

Laporan : Erik Hamzah | Bekasi

© VIVA.co.id

SHARE

BERITA TERKAIT
BERITA TERPOPULER
Kanal Lainnya