Jum'at, 25 April 2014
09:23 WIB
Melalaikan PDS HB Jassin, Foke Minta Maaf
Ia terkejut, pusat dokumentasi sastra Indonesia terbesar itu hanya dapat Rp50 juta.
Like
Gubernur DKI Fauzi Bowo
Antique, Dwifantya Aquina | Selasa, 22 Maret 2011, 00:12 WIB

VIVAnews - Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo meminta maaf atas kelalaiannya mengawasi alokasi anggaran Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin. Ia mengaku terkejut, pusat dokumentasi sastra Indonesia terbesar di dunia itu hanya mendapat dana Rp50 juta tahun ini.

"Saya minta maaf, ini luput dari pengamatan saya," ujar Fauzi Bowo di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Senin 21 Maret 2011.

Fauzi menuturkan, Surat Keputusan (SK) Gubernur DKI Jakarta No. SK IV 215 tertanggal 16 Februari 2011, yang menyatakan bahwa PDS HB Jassin hanya memperoleh anggaran Rp50 juta per tahun akan dikoreksi.

Namun Foke, panggilan akrab Fauzi, belum bisa memastikan kapan hal itu terealisasi karena membutuhkan proses panjang. Pihak PDS HB Jassin sendiri menginginkan alokasi anggaran bagi mereka mencapai Rp1 miliar. "Pasti akan ada perubahan anggaran, mudah-mudahan kita biayai segitu," ujar Foke.

Fauzi pun menegaskan, Pemda DKI tak akan lepas tangan meski salah satu organisasi massa telah menawari akan membantu operasional PDS HB Jassin tersebut.

Sementara itu, Ketua Dewan Pembina Yayasan PDS HB Jassin, Ajip Rosidi mengatakan tak akan menerima tawaran ormas tersebut, dan tetap berharap Pemda segera menyelesaikan permasalahan ini. "Kalau dari Nasdem atau parpol saya bilang tidak deh. Lebih baik tidak agar tidak masuk ke ranah politik," katanya.

Ajip Rosidi mengisahkan, pada 2003, PDS HB Jassin mendapat dana dari Pemprov DKI Jakarta sebesar Rp500 juta setahun, ditambah bantuan tahunan dari Pusat Bahasa sekitar Rp25 juta. "Uang itu tidak cukup, sehingga PDS HB Jassin tak dapat membeli buku baru dan berlangganan majalah serta surat kabar untuk koleksi," ujarnya.

Kemudian, pada 2007, Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo malah memotong dana itu hingga 50 persen tanpa alasan jelas. Perubahan alokasi dana terhadap PDS HB Jassin pun terus berubah. Hingga pada 2010, dana yang disediakan oleh Pemda hanya Rp165.142.500.

Ketika Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) membuat putusan agar Pemda tak boleh memberi bantuan terus menerus kepada yayasan, pihaknya sempat mencari jalan keluar. Usulan yang diberikan yakni agar PDS HB Jassin itu masuk Pusat Kesenian Jakarta (PKJ).

Meski tak mendapat tanggapan langsung dari gubernur, Kepala Dinas Kebudayaan DKI dalam rapat PDS menyatakan secara lisan bahwa saran tersebut diterima, tetapi rumusannya sedang dibuat.

Menurut Ajip, kepala dinas itu mengatakan sejak dana dikurangi, dana simpanan yang dimilikinya dipakai menambal kekurangan operasional. Namun, karena dana tersebut tak banyak, pada akhir 2010 dana sudah habis terpakai.

Bahkan, lanjut Ajip, kalau pun suntikan dana yang diberikan sama dengan 2010 yakni sekitar Rp165 juta, atau seperti sebelumnya Rp350 juta, tetap dianggap tidak cukup meneruskan PDS HB Jassin. "Kami tak lagi mempunyai dana simpanan untuk menombokinya. Jika 2011 hanya Rp50 juta itu berarti PDS HB Jassin harus ditutup," kata Ajip.

Menurut Ajip, PDS HB Jassin bisa berjalan lagi jika lembaga yang diwariskan oleh "Paus Sastra" Indonesia HB Jassin itu mendapat kucuran dana setidaknya Rp1 miliar setahun.

© VIVA.co.id

Berita Terkait
A A A
Kanal Lainnya