Jum'at, 24 Oktober 2014
21:41 WIB
Kronologis Pemukulan Pengacara di Gedung MK
Sidik, aktivis LBH tertarik mengabadikan dengan merekam keributan itu.
Sidang Uji Materi UU Penodaan Agama
Ismoko Widjaya, Suryanta Bakti Susila | Rabu, 24 Maret 2010, 21:13 WIB

VIVAnews - Insiden pemukulan terjadi saat rehat sidang uji materi UU Penodaan Agama di Gedung Mahkamah Konstitusi. Dua pengacara dipukul sekitar pukul 13.00. Keduanya yakni, Uli Parulian dan Nurkholis.

"Saya dengar celotehan bau setan, bau babi, dan lain lain. Intinya menghardik lah," kata Nurcholis di Gedung LBH Jakarta, Jakarta Pusat, Rabu 24 Maret 2010.

Dia pun menceritakan kronologis kejadian. Awalnya, usai makan siang di Kafetaria Emka bersama koleganya sesama kuasa hukum pemohon pencabutan undang-undang tersebut, Uli dan Nurcholis Hidayat keluar terlebih dahulu.

Kemudian Nur dan Uli masuk lagi ke dalam Kafetaria mengajak Chairul Anam naik ke lantai dua. "Sepertinya yang diancam Chairul Anam, karena dia yang sering vokal," ujar Nur, panggilan Nurcholis.

Anam minta waktu menyelesaikan obrolan, sementara Nur dan Uli keluar lagi dan menunggu di depan Kafe. Nah, ketika itu kemudian orang-orang beratribut FPI dan LPI itu mengerubuti.

"Menanyakan agamanya Uli, kemudian ditanya soal LBH, uang administrasi dan lain-lain. Saat itu mereka minta dialog. Tapi, kemudian ada yang merangkul dan mendesak. Seseorang menendang saya dari belakang. Kalau dikonfrontir saya tahu orangnya," kata Nur.

Keributan itu mengundang perhatian staf Mahkamah. Staf itu mengingatkan massa agar menjaga ketertiban. Di wilayah Mahkamah jangan macam-macam. Kemudian mereka terlibat perdebatan.

"Saat itulah saya dan teman-teman ke atas," kata Nur.

Sidik, aktivis LBH tertarik mengabadikan dengan merekam keributan itu. Rupanya, hal itu membuat geram massa. Kameranya direbut.

"Karena itu bukan kamera saya, yang punya minta diambil lagi, saya datangi lagi," kata Sidik. Kamera dikembalikan. Rupanya, file belum dihapus.

"Mereka paksa menghapus, baik saya hapus. Tapi, ketika saya menghapus ada yang menendang. Trus saya tanya siapa menendang saya? Saya! salah satu nantang saya. Ada juga yang memukul kepala saya. Setelah rekaman dihapus tidak mengganggu lagi," tambah Sidik.

Sidik tidak ikut sidang kedua. Dia ke dokter. Hasil dari dokter spesialis keluar besok. "Kalau dokter umum bilang ada penggumpalan darah di kepala saya," ujarnya lagi.

Seorang korban lagi, Novel. Dia hadir di MK menemani Pendeta Nababan yang menjadi Ahli dalam sidang itu. Ketika rehat, dia yang kebetulan melihat insiden itu mengambil gambar.

"Ada yang mau mengambil kamera. Saya tidak mau kasih. mengerubuti, memarahi, ada yang menendang," kata Sidik.

Novel merasa beruntung ada polisi melerai. Dia diarahkan polisi lewat samping untuk naik ke lantai dua. Rupanya, disamping ada banyak.

"Saya dikerubuti lagi. Ada yang mencekik saya melempari saya, Polisi menghalangi," ujarnya.

Namun, jumlah polisi yang menghalau kalah banyak. Dia dikerubuti lagi. Novel terpojok. Beruntung petugas keamanan dari dalam gedung membantunya.

"Saya diarahkan ke lift dan naik. Saya nggak tahu berapa kali dipukul di badan, kepala dua kali. Saya sudah cek ke rumah sakit, ngak apa-apa," katanya.


ismoko.widjaya@vivanews.com

© VIVA.co.id

SHARE

BERITA TERKAIT
BERITA TERPOPULER
Kanal Lainnya